ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR
Dosen Pengampu:
Untung Suhardi,
S.Pd.H.,M.Fil.H
SUSILA DALAM AGAMA HINDU

Disusun Oleh:
Sundari
Janur Anggita
Penerangan
Agama Hindu
SEKOLAH
TINGGI AGAMA HINDU (STAH)
DHARMA
NUSANTARA JAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
I.I. Latar Belakang masalah
Susila merupakan kerangka dasar Agama Hindu yang kedua
setelah filsafat (Tattwa). Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia
sehari-hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan
lingkungannya akan menentukan sampai di mana kadar budi pekerti yang
bersangkutan. la akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola
hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap
simpatik yang memegang teguh sendi- sendi kesusilaan.
Di dalam filsafat (Tattwa) diuraikan bahwa agama Hindu
membimbing manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup seutuhnya, oleh sebab itu
ajaran sucinya cenderung kepada pendidikan sila dan budi pekerti yang luhur,
membina umatnya menjadi manusia susila demi tercapainya kebahagiaan lahir dan
batin.
I.II. Rumusan Masalah
1.
Apakah pengertian dari Susila ?
2.
Apa sajakah prinsip dasar susila
Hindu?
3.
Bagaimana hubungan antara ajaran
susila dalam penerapannya di kehidupan sehari- hari?
I.III. Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari
susila.
2.
Untuk mengetahui prinsip dasar susila
Hindu.
3.
Untuk mengetahui hubungan antara
ajaran susila dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
II.I. Pengertian Susila
Kata
Susila terdiri dari dua suku kata: "Su" dan "Sila".
"Su" berarti baik, indah, harmonis. "Sila" berarti
perilaku, tata laku. Jadi Susila adalah tingkah laku manusia yang baik
terpancar sebagai cermin obyektif kalbunya dalam mengadakan hubungan dengan
lingkungannya.
Pengertian
Susila menurut pandangan Agama Hindu adalah tingkah laku hubungan timbal balik
yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan alam semesta
(lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya), keikhlasan dan kasih
sayang.
Pola hubungan tersebut berprinsip pada ajaran Tat Twam
Asi (Ia adalah engkau) mengandung makna bahwa hidup segala makhluk sama,
menolong orang lain berarti menolong diri sendiri, dan sebaliknya menyakiti
orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri. Jiwa sosial demikian diresapi
oleh sinar tuntunan kesucian Hyang Widi dan sama sekali bukan atas dasar pamrih
kebendaan. Dalam hubungan ajaran susila beberapa aspek ajaran sebagai upaya
penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci.
II.II. Prinsip dasar susila Hindu
Manusia
disebut sebagai mahluk social, karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan
pasti bergantung pada orang lain. Dalam hidup tersebut, perlu adanya suatu pengaturan
untuk mengatur kehidupan ini. peraturan dalam bertingkah laku yang baik disebut
sebagai tata susila, dan agama merupakan dasar tata susila. Dari semua itu,
timbullahsuatu ajaran yang disebut “Tat Twam asi ” yang berarti itu adalah
engkau, semua mahluk hidup itu adalah engkau, Engkaulah awal mula
roh(jiwatman), dan sat(Prakerti) semua mahluk.
Hamba ini adalah mahluk yang berasal dari Mu, oleh
karena itu jiwatmanku dan prakertiku tunggal dengan jiwatman dan prakerti semua
mahluk. Oleh karena itu aku adalah engkau, aku adalah Brahman”Aham Brahma
Asmi”. Demikianlah yang tercantum dalam kitab Brhadaranyaka Upanisad. Jadi prinsip dasar susila Hindu
adalah adanya satu Atman yang meresapi segalanya. Bila kamu merugikan mahluk
lain,berarti kamu merugikan dirimu sendiri, karena segenap alam tiada lain
adalah dirimu sendiri.
Diantara
mahluk hidup, manusia merupakan mahluk paling istimewa, mahluk yang paling
sempurna karena memiliki Tri Pramana (Sabda, Idep, Bayu). Dengan idep, manusia
mampu membedakan mana yang baik dan mana yang burukserta mampu melebur
perbuatan buruk ke dalam perbuatan baik. Ajaran susila hendaknya diterapkan di
dalam kehidupan kita di dunia ini, karena di dunia inilah tempat kita berkarma.
Untuk dapat meningkatkan diri, manusia harus mampu meningkatkan sifat-sifat
baikdan mulia yang ada pada dirinya. Pada dasarnya dalam diri manusiaada dua
kecenderungan, yaitu kecenderungan berbuat baik dan kecenderungan berbuat
buruk. Sri Krsna di dalam kitab Bhagawadgita membagikecenderungan Budhi manusia
menjadi dua bagian, yaitu ;
a. Daiwi
sampad, yaitu sifat- sifat kedewaan;
b. Asuri
sampad, yaitu sifat- sifat keraksasaan.
Daiei sampad
dimaksudkan untuk menuntun perasaan manusia ke arah keselarasan antara sesame manusia, dan sifat
seperti inilah yang perlu dibina. Kemudian kita mengenal sifat asuri
sampad(sifat-sifat buruk) yang harus kita hindari. Perkembangan kecenderungan
sifat-sifat Daiwi Sampad dan Asuri Sampad pada manusia tersebut ada yang timbul
dari factor luar dan ada pula factor dari dalam diri sendiri serta ada pula
dari kedua factor tersebut.
II.III. Hubungan antara ajaran
susila dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.
1. TRI KAYA PARISUDHA
Untuk bisa menjalankan dharma diperlukan prilaku dasar yang disebut: Tri Kaya Parisuda artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan. Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya, meliputi:
1. Berpikir yang benar (Manacika) - Satya Hrdaya - satunya pikiran
2. Berkata yang benar (Wacika) - Satya Wacana - satunya tutur
3. Berbuat yang benar (Kayika) - Satya Laksana - satunya laku
Dari tiap arti kata di dalamnya, Tri berarti tiga; Kaya bararti Karya atau perbuatan atau kerja atau prilaku; sedangkan Parisudha berarti "upaya penyucian".Jadi "Trikaya-Parisudha berarti "upaya pembersihan/penyucian atas tiga perbuatan atau prilaku kita".
Tri Kaya Parisudha yang menjadi konsentrasi pembahasan kali ini adalah merupakan salah satu aplikasi dan perbuatan baik (subha karma). Secara hirarki bermula dan pikiran yang baik dan benarlah akan mengalir ucapan dan perbuatan yang baik dan benar pula. Jadi kuncinya adalah pada pikiran, yang dalam pepatah sama dengan "dan telaga yang jernihlah mengalir air yang jernih pula". Kalau pikirannya kacau, apalagi memikirkan yang macam-macam dan bukan-bukan niscaya perkataan dan perbuatannyapun akan amburadul yang bermuara pada kehancuran dan penderitaan.
Untuk bisa menjalankan dharma diperlukan prilaku dasar yang disebut: Tri Kaya Parisuda artinya tiga gerak perilaku manusia yang harus disucikan. Tri Kaya Parisudha adalah tiga jenis perbuatan yang merupakan landasan ajaran Etika Agama Hindu yang dipedomani oleh setiap individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya, meliputi:
1. Berpikir yang benar (Manacika) - Satya Hrdaya - satunya pikiran
2. Berkata yang benar (Wacika) - Satya Wacana - satunya tutur
3. Berbuat yang benar (Kayika) - Satya Laksana - satunya laku
Dari tiap arti kata di dalamnya, Tri berarti tiga; Kaya bararti Karya atau perbuatan atau kerja atau prilaku; sedangkan Parisudha berarti "upaya penyucian".Jadi "Trikaya-Parisudha berarti "upaya pembersihan/penyucian atas tiga perbuatan atau prilaku kita".
Tri Kaya Parisudha yang menjadi konsentrasi pembahasan kali ini adalah merupakan salah satu aplikasi dan perbuatan baik (subha karma). Secara hirarki bermula dan pikiran yang baik dan benarlah akan mengalir ucapan dan perbuatan yang baik dan benar pula. Jadi kuncinya adalah pada pikiran, yang dalam pepatah sama dengan "dan telaga yang jernihlah mengalir air yang jernih pula". Kalau pikirannya kacau, apalagi memikirkan yang macam-macam dan bukan-bukan niscaya perkataan dan perbuatannyapun akan amburadul yang bermuara pada kehancuran dan penderitaan.
2. TRI GUNA
Adalah
tiga sifat yang mempengaruhi tingkah laku manusia, yang terdiri dari satwam
(sifat tenang), Rajas (sifat dinamis), dan Tamas ( sifat lamban). Tri Guna
terdapat dalam diri setiap manusia, hanya sajaukurannya berbeda-beda. Tri guna
merupakan tiga macam elemen atau nilai –nilai yanh ada hubungannya dengan
karakter manusia. Ketiga guna tersebut merupakan satu kesatuan yang bekerjasama
dalam kekuatan yang berbeda- beda. Namun perlu diingat, dalam kerjasama antara
ketiga guna tersebut satwamlah yang seharusnya sebagai pengendali, gerakannya
dibantu oleh rajas dan tamas.
3. . CATUR PARAMITA
Pada hakekatnya hanya dari adanya pikiran yang benar akan menimbulkan perkataan yang benar sehingga mewujudkan perbuatan yang benar pula. Dengan ungkapan lain adalah satunya pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam Catur Paramita, diantaranya:
1. Maitri yaitu sifat suka menolong orang lain yang dalam kesusahan dengan ikhlas
2. Karuna yaitu sifat kasih sayang dan cinta kepada sesama tanpa meminta balasan
3. Mudita yaitu sifat simpatik dan ramah tamah menghormati oang lain dengan tulus
4. Upeksa yaitu sifat mawas diri, tepa sarira, bisa menempatkan diri, rendah hati
Pada hakekatnya hanya dari adanya pikiran yang benar akan menimbulkan perkataan yang benar sehingga mewujudkan perbuatan yang benar pula. Dengan ungkapan lain adalah satunya pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam Catur Paramita, diantaranya:
1. Maitri yaitu sifat suka menolong orang lain yang dalam kesusahan dengan ikhlas
2. Karuna yaitu sifat kasih sayang dan cinta kepada sesama tanpa meminta balasan
3. Mudita yaitu sifat simpatik dan ramah tamah menghormati oang lain dengan tulus
4. Upeksa yaitu sifat mawas diri, tepa sarira, bisa menempatkan diri, rendah hati
4. PANCA YAMA BRATA
adalah lima jenis pengekangan diri berdasarkan atas upaya menjauhi larangan agama sebagai norma kehidupan sebagai berikut:
1. Ahimsa yaitu Kasih kepada makhluk lain, tidak membunuh atau menganiaya
2. Brahmacari yaitu Berguru dengan sungguh- sungguh, tidak melakukan hubungan kelamin (sanggama) selama menuntut ilmu.
3. Satya yaitu Setia, pantang ingkar kepada janji
4. Awyawaharika yaitu Cinta kedamaian, tidak suka bertengkar dan mengumbar bicara yang tidak bermanfaat
5. Astenya yaitu Jujur, pantang melakukan pencurian
adalah lima jenis pengekangan diri berdasarkan atas upaya menjauhi larangan agama sebagai norma kehidupan sebagai berikut:
1. Ahimsa yaitu Kasih kepada makhluk lain, tidak membunuh atau menganiaya
2. Brahmacari yaitu Berguru dengan sungguh- sungguh, tidak melakukan hubungan kelamin (sanggama) selama menuntut ilmu.
3. Satya yaitu Setia, pantang ingkar kepada janji
4. Awyawaharika yaitu Cinta kedamaian, tidak suka bertengkar dan mengumbar bicara yang tidak bermanfaat
5. Astenya yaitu Jujur, pantang melakukan pencurian
5. PANCA NYAMA BRATA
adalah lima jenis pengekangan diri berdasarkan atau tunduk (mengikuti) peraturan Dharma yang telah ditentukan, sebagai berikut:
1. Akrodha yaitu Tidak dikuasai oleh nafsu kemarahan.
2. Guru Susrusa yaitu Hormat dan taat kepada guru serta patuh pada ajaran- ajarannya.
3. Sauca yaitu Senantiasa menyucikan diri lahir batin.
4. Aharalagawa yaitu Pengaturan makan (makanan bergizi) dan tidak hidup berfoya- foya/ boros.
5. Apramada yaitu Tidak menyombongkan diri dan takabur.
adalah lima jenis pengekangan diri berdasarkan atau tunduk (mengikuti) peraturan Dharma yang telah ditentukan, sebagai berikut:
1. Akrodha yaitu Tidak dikuasai oleh nafsu kemarahan.
2. Guru Susrusa yaitu Hormat dan taat kepada guru serta patuh pada ajaran- ajarannya.
3. Sauca yaitu Senantiasa menyucikan diri lahir batin.
4. Aharalagawa yaitu Pengaturan makan (makanan bergizi) dan tidak hidup berfoya- foya/ boros.
5. Apramada yaitu Tidak menyombongkan diri dan takabur.
6. TRI MALA
merupakan tiga jenis kekotoran dan kebatilan jiwa manusia akibat pengaruh negatif dan nafsu yang sering tidak dapat terkendalikan dan sangat bertentangan dengan etika kesusilaan. Trimala patut diwaspadai dan diredam, karena ia akan menghancurkan hidup, meliputi:
1. Mithya hrdya yaitu berperasaan dan berpikiran buruk
2. Mithya wacana yaitu berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji
3. Mithya laksana yaitu berbuat yang curang / culas / licik (merugikan orang lain)
Apabila Trimala telah menguasai seluruh hidup manusia timbullah kegelapan (Awidya) mengakibatkan ia tidak mampu lagi melakukan pertimbangan budi, kegelapan yang mempengaruhi pandangan hidupnya.
merupakan tiga jenis kekotoran dan kebatilan jiwa manusia akibat pengaruh negatif dan nafsu yang sering tidak dapat terkendalikan dan sangat bertentangan dengan etika kesusilaan. Trimala patut diwaspadai dan diredam, karena ia akan menghancurkan hidup, meliputi:
1. Mithya hrdya yaitu berperasaan dan berpikiran buruk
2. Mithya wacana yaitu berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji
3. Mithya laksana yaitu berbuat yang curang / culas / licik (merugikan orang lain)
Apabila Trimala telah menguasai seluruh hidup manusia timbullah kegelapan (Awidya) mengakibatkan ia tidak mampu lagi melakukan pertimbangan budi, kegelapan yang mempengaruhi pandangan hidupnya.
7. SAD RIPU
adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. Apabila tidak mampu menguasainya akan membawa bencana dan kehancuran total kehidupan manusia. Karena itu Sad Ripu patut dikendalikan dengan budi susila. Sad Ripu terdiri dari:
1. Kama yaitu hawa nafsu yang tidak terkendalikan
2. Lobha yaitu kelobaan (ketamakan), ingin selalu mendapatkan yang lebih.
3. Krodha yaitu kemarahan yang melampaui batas (tidak terkendalikan).
4. Mada yaitu kemabukan yang membawa kegelapan pikiran.
5. Moha yaitu kebingungan/ kurang mampu berkonsentrasi sehinggaakibatnya individu tidak dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna.
6. Matsarya yaitu iri hati/ dengki yang menyebabkan permusuhan.
adalah enam musuh di dalam diri manusia yang selalu menggoda, yang mengakibatkan ketidakstabilan emosi. Apabila tidak mampu menguasainya akan membawa bencana dan kehancuran total kehidupan manusia. Karena itu Sad Ripu patut dikendalikan dengan budi susila. Sad Ripu terdiri dari:
1. Kama yaitu hawa nafsu yang tidak terkendalikan
2. Lobha yaitu kelobaan (ketamakan), ingin selalu mendapatkan yang lebih.
3. Krodha yaitu kemarahan yang melampaui batas (tidak terkendalikan).
4. Mada yaitu kemabukan yang membawa kegelapan pikiran.
5. Moha yaitu kebingungan/ kurang mampu berkonsentrasi sehinggaakibatnya individu tidak dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna.
6. Matsarya yaitu iri hati/ dengki yang menyebabkan permusuhan.
8. CATUR ASRAMA
Menurut agama Hindu pembagian tingkat kehidupan manusia sesuai dengan sistem Catur Asrama, ialah sebagai berikut:
1. Brahmacari Asrama Adalah tingkat masa menuntut ilmu/masa mencari ilmu. Masa Brahmacari diawali dengan upacara Upanayana dan diakhiri dengan pengakuan dan pemberian Samawartana (Ijazah).
2. Grhasta Asrama Adalah tingkat kehidupan berumahtangga. Masa Grehasta Asrama ini adalah merupakan tingkatan kedua setelah Brahmacari Asrama. Dalam memasuki masa Grehasta diawali dengan suatu upacara yang disebut Wiwaha Samskara (Perkawinan) yang bermakna sebagai pengesahan secara agama dalam rangka kehidupan berumahtangga (melanjutkan keturunan, melaksanakan yadnya dan kehidupan sosial lainnya).
3. Wanaprastha Asrama Merupakan tingkat kehidupan ketiga. Dimana berkewajiban untuk menjauhkan diri dari nafsu keduniawian. Pada masa ini hidupnya diabdikan kepada pengamalan ajaran Dharma. Dalam masa ini kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, melainkan ia mencari dan mendalami arti hidup yang sebenarnya, aspirasi untuk memperoleh kelepasan/moksa dipraktekkannya dalam kehidupan sehari- hari.
4. Sanyasin Asrama (bhiksuka) Merupakan tingkat terakhir dari catur asrama, di mana pengaruh dunia sama sekali lepas. Mengabdikan diri pada nilai-nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang benar. Pada tingkatan ini, ini banyak dilakukan kunjungan (Dharma yatra, Tirtha yatra) ke tempat suci, di mana seluruh sisa hidupnya hanya diserahkan kepada Sang Pencipta untuk mencapai Moksa
Menurut agama Hindu pembagian tingkat kehidupan manusia sesuai dengan sistem Catur Asrama, ialah sebagai berikut:
1. Brahmacari Asrama Adalah tingkat masa menuntut ilmu/masa mencari ilmu. Masa Brahmacari diawali dengan upacara Upanayana dan diakhiri dengan pengakuan dan pemberian Samawartana (Ijazah).
2. Grhasta Asrama Adalah tingkat kehidupan berumahtangga. Masa Grehasta Asrama ini adalah merupakan tingkatan kedua setelah Brahmacari Asrama. Dalam memasuki masa Grehasta diawali dengan suatu upacara yang disebut Wiwaha Samskara (Perkawinan) yang bermakna sebagai pengesahan secara agama dalam rangka kehidupan berumahtangga (melanjutkan keturunan, melaksanakan yadnya dan kehidupan sosial lainnya).
3. Wanaprastha Asrama Merupakan tingkat kehidupan ketiga. Dimana berkewajiban untuk menjauhkan diri dari nafsu keduniawian. Pada masa ini hidupnya diabdikan kepada pengamalan ajaran Dharma. Dalam masa ini kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, melainkan ia mencari dan mendalami arti hidup yang sebenarnya, aspirasi untuk memperoleh kelepasan/moksa dipraktekkannya dalam kehidupan sehari- hari.
4. Sanyasin Asrama (bhiksuka) Merupakan tingkat terakhir dari catur asrama, di mana pengaruh dunia sama sekali lepas. Mengabdikan diri pada nilai-nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang benar. Pada tingkatan ini, ini banyak dilakukan kunjungan (Dharma yatra, Tirtha yatra) ke tempat suci, di mana seluruh sisa hidupnya hanya diserahkan kepada Sang Pencipta untuk mencapai Moksa
9. Catur Purusa Artha
adalah empat dasar tujuan hidup manusia.
10. Catur Warna
berarti empat pilihan hidup atau empat pembagian dalam kehidupan berdasarkan
atas bakat (guna) dan ketrampilan (karma) seseorang.
11. Catur Guru
adalah empat kepribadian yang harus dihormati oleh setiap orang Hindu.
BAB III
PENUTUP
III.I.
Kesimpulan
Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia
sehari-hari. Susila adalah tingkah laku
hubungan timbal balik yang selaras dan harmonis antara sesama manusia dengan
alam semesta (lingkungan) yang berlandaskan atas korban suci (Yadnya),
keikhlasan dan kasih sayang.
Hubungan antara ajaran susila dengan beberapa aspek ajaran
sebagai upaya penerapannya sehari- hari diuraikan lagi secara lebih terperinci
dalam tri kaya parisudha, Catur Purusa
Artha, Catur Paramitha, Panca Yama Brata,
Panca Nyama Brata,
Tri Mala, Sad Ripu, Catur Asrama, Catur Warna, dan Catur Guru.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar